Tags

, ,

oleh Nurcholish Madjid

       Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadits yang terkenal, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.  Dalam penglihatan  itu  terkesan  adanya semacam kompartementalisasi antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,   seolah-olah setiap  satu  dari  ketiga  noktah  itu  dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.

        Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam.  Dalam  telaah lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu  dengan  yang  lain,  bahkan  tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam  dan ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.

      Trilogi  itu  telah  mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi budaya Islam. Arsitektur masjid Indonesia yang banyak diilhami oleh,  dan  pinjam  dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal adanya seni arsitektur atap bertingkat tiga.  Seni  arsitektur itu  sering  ditafsirkan  kembali sebagai lambang tiga jenjang perkembangan  penghayatan  keagamaan  manusia,  yaitu  tingkat dasar  atau  permulaan  (purwa),  tingkat menengah (madya) dan tingkat akhir yang maju dan tinggi (wusana). Dan ini  dianggap sejajar dengan jenjang vertikal Islam, iman, dan ihsan, selain juga ada tafsir kesejajarannya dengan syari’at,  thariqat  dan ma’rifat.  Dalam  bahasa  simbolisme,  interpretasi  itu hanya berarti penguatan pada apa yang secara laten telah  ada  dalam masyarakat.

      Berikut  ini  kita  akan  mencoba, berdasarkan pembahasan para ulama,  apa  pengertian  ketiga  istilah  itu  dan   bagaimana wujudnya   dalam   hidup   keagamaan  seorang  pemeluk  Islam. Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik   pengertian istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.

        Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas –  pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan – dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori  yang terpisah  –  sebagaimana sudah diisyaratkan – melainkan karena keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan  di akhir  pembahasan  ini  kita  akan  mencoba  melihat relevansi nilai-nilai keagamaan dari iman,  Islam  dan  ihsan  itu  bagi hidup  modern,  dengan  mengikuti pembahasan oleh seorang ahli psikologi yang sekaligus seorang pemeluk  Islam  yang  percaya pada  agamanya  dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman keagamaan Islam.