Tags

, ,

SHALAT 2

MAKNA INSTRUMENTAL SHALAT (ARTI SIMBOLIK UCAPAN SALAM)

Shalat   disebut   bermakna  intrinsik  (makna  dalam  dirinya sendiri), karena ia merupakan  tujuan  pada  dirinya  sendiri, khususnya   shalat   sebagai  peristiwa menghadap  Allah  dan berkomunikasi dengan Dia, baik melalui bacaan, maupun melalui tingkah  laku  (khususnya ruku’ dan sujud). Dan shalat disebut bermakna  instrumental, karena  ia  dapat  dipandang  sebagai sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri.

Sesungguhnya  adanya  makna  instrumental  shalat  itu  sangat logis, justru sebagai konsekuensi  makna  intrinsiknya  juga. Yaitu,  jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan menghayati kehadiran Tuhan  dalam  hidup  kesehariannya, maka tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan mempunyai dampak pada tingkah laku dan pekertinya,  yang  tidak  lain  daripada dampak  kebaikan. Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan itu merupakan kebahagiaan tersendiri yang  tak  terlukiskan  dalam kata-kata,  namun  tidak  kurang  pentingnya  ialah perwujudan keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa  perilaku  berbudi pekerti  luhur, sejiwa dalam perkenan atau ridla Tuhan. Inilah makna  instrumental  shalat,  yang  jika  shalat   itu   tidak menghasilkan  budi  pekerti  luhur maka ia sebagai “instrumen”akan sia-sia belaka.

Berkenaan dengan ini, salah  satu  firman  Allah  yang  banyakdikutip  ialah,  “Bacalah  apa  yang  telah  diwahyukan kepadaengkau (hai  Muhammad),  yaitu  Kitab  Suci,  dan tegakkanlah shalat.  Sesungguhnya  shalat itu mencegah dari yang kotor dan keji, dan sungguh  ingat  kepada  Allah  adalah  sangat  agung (pahalanya).   Allah   mengetahui  apa   yang  kamu  sekalian kerjakan.” [22] Dengan  jelas  firman  itu  menunjukkan  bahwa salah satu  yang  dituju  oleh  adanya kewajiban shalat ialah bahwa pelakunya  menjadi tercegah  dari  kemungkinan  berbuat jahat  dan keji. Maka pencegahan diri dan perlindungannya dari kejahatan dan kekejian itu merupakan hasil pendidikan  melalui shalat.  Karena  itu  jika shalat seseorang tidak mencapai hal yang demikian maka ia merupakan suatu kegagalan dan kemuspraan yang  justru terkutuk dalam pandangan Allah. Inilah pengertian yang kita dapatkan dari  firman  Allah,  (terjemahnya, kuranglebih)  “Sudahkah  engkau  lihat orang yang mendustakan agama? Yaitu dia yang menghardik anak yatim, dan tidak  dengan  tegas menganjurkan   pemberian   makan kepada  orang  miskin!  Maka celakalah untuk mereka yang  shalat,  yang  lupa  akan shalat mereka  sendiri.  Yaitu  mereka  yang suka pamrih, lagi enggan memberi  pertolongan.” [23]  Jadi,  ditegaskan  bahwa  shalat seharusnya  menghasilkan  rasa  kemanusiaan dan kesetiakawanan sosial, yang dalam firman itu dicontohkan  dalam  sikap  penuh santun kepada anak yatim dan kesungguhan dalam memperjuangkan nasib orang miskin.

Adalah hasil dan tujuan shalat sebagai sarana pendidikan  budi luhur  dan perikemanusiaan itu yang dilambangkan dalam ucapan salam sebagai penutupnya. Ucapan salam tidak lain  adalah  doa untuk keselamatan, kesejahteraan dan kesentosaan orang banyak, baik yang ada di depan kita maupun yang tidak,  dan  diucapkan sebagai pernyataan kemanusiaan dan solidaritas sosial. Dengan begitu maka shalat dimulai dengan pernyataan  hubungan  dengan Allah  (takbir) dan diakhiri dengan pernyataan hubungan dengan sesama manusia (taslim, ucapan salam). Dan jika  shalat  tidak menghasilkan  ini,  maka ia menjadi muspra, tanpa guna, bahkan menjadi alasan adanya kutukan  Allah,  karena  dapat  bersifat palsu  dan  menipu.  Dari  situ  kita  dapat memahami kerasnya peringatan dalam firman itu.

Dalam kaitannya dengan firman itu Muhammad  Mahmud  al-Shawwaf menguraikan makna  ibadat  demikian: Terdapat berbagai bentuk ibadat pada setiap agama, yang diberlakukan untuk mengingatkan manusia  akan  keinsyafan  tentang  kekuasaan  Ilahi yang Maha Agung, yang merupakan sukma  ibadat  itu  dan  menjadi  hikmah rahasianya sehingga seorang manusia tidak mengangkangi manusia yang lain, tidak berlaku sewenang-wenang dan tidak  yang  satu menyerang  yang  lain.  Sebab  semuanya  adalah hamba  Allah. Betapapun hebat  dan  mulianya  seseorang  namun  Allah  lebih hebat, lebih mulia, lebih agung dan lebih tinggi. Jadi, karena manusia  lalai  terhadap  makna-makna yang  luhur  ini   maka diadakanlah  ibadat  untuk  mengingatkan  mereka.  Oleh karena itulah setiap ibadat yang benar tentu mempunyai  dampak  dalam pembentukan akhlak pelakunya dan dalam pendidikan jiwanya.

Dampak  itu  terjadi  hanyalah  dari  ruh  ibadat tersebut dan keinsyafan yang pangkalnya ialah pengagungan  dan  kesyahduan. Jika  ibadat  tidak  mengandung  hal ini maka tidaklah disebut ibadat, melainkan sekedar adat dan pamrih, sama dengan  bentuk manusia  dan  patungnya  yang tidak disebut manusia, melainkan sekedar khayal, bahan tanah atau perunggu semata.

Shalat adalah ibadat yang paling agung,  dan  suatu  kewajiban yang   ditetapkan   atas  setiap   orang  muslim.  Dan  Allah memerintahkan untuk menegakkannya, tidak sekedar menjalaninya saja. Dan menegakkan sesuatu berarti menjalaninya dengan tegak dan sempurna  karena   kesadaran   akan   tujuannya,   dengan menghasilkan  berbagai dampak  nyata. Dampak shalat dan hasil tujuannya ialah sesuatu yang  diberitakan  Allah kepada  kita dengan  firman-Nya,  “Sesungguhnya  shalat  mencegah dari yang kotor dan keji”,  [24]  dan  firman-Nya  lagi,  “Sesungguhnya manusia  diciptakan  gelisah:  jika keburukan  menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan  menimpanya,  ia banyak mencegah  (dari  sedekah). Kecuali mereka yang shalat…” [25] Allah memberi peringatan keras kepada  mereka  yang  menjalani shalat  hanya  dalam bentuknya saja seperti gerakan dan bacaan tertentu  namun  melupakan  makna  ibadat   itu   dan   hikmah rahasianya, yang semestinya menghantarkannya pada tujuan mulia berupa gladi kepribadian, pendidikan kejiwaan dan  peningkatan budi.  Allah  berfirman,  “Maka celakalah  untuk  mereka yang shalat, yang lupa akan shalat  mereka  sendiri.  Yaitu mereka yang  suka  pamrih,  lagi  enggan  memberi  pertolongan.” [26] Mereka  itu dinamakan  “orang  yang  shalat”  karena   mereka mengerjakan  bentuk  lahir shalat itu, dan digambarkan sebagai lupa akan shalat yang hakiki, karena jauh dari pemusatan jiwa yang  jernih dan bersih kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, yang seharusnya mengingatkannya untuk takut kepada-Nya, dan   menginsyafkan  hati  akan  kebesaran  kekuasaan-Nya  dan keluhuran kebaikan-Nya.

Para ulama membagi riya  atau  pamrih  menjadi  dua.  Pertama,pamrih kemunafikan, yaitu jika perbuatan ditujukan untuk dapat dilihat orang lain guna mendapatkan pujian, penghargaan  atau persetujuan   mereka.   Kedua  pamrih  adat  kebiasaan,  yaitu perbuatan dengan mengikuti ketentuan-ketentuannya namun  tanpa memperhatikan  makna perbuatan itu dan hikmah rahasianya serta faedahnya, dan  tanpa  perhatian  kepada Siapa  (Tuhan)  yang sebenarnya  ia berbuat untuk-Nya dan guna mendekat kepada-Nya.Inilah yang paling banyak dikerjakan orang  sekarang.  Sungguhamat disayangkan! [27]

Demikian  penjelasan  yang  diberikan  oleh seorang ahli agama dari Arab,  al-Shawwaf, tentang  makna  instrumental  shalat. Dalam  Kitab Suci juga dapat kita temukan ilustrasi yang tajam tentang keterkaitan antara shalat dan perilaku kemanusiaan:

Setiap pribadi tergadai oleh apa yang telah dikerjakannya Kecuali golongan yang beruntung (kanan) Mereka dalam surga, dan bertanya-tanya, tentang nasib orang-orang yang berdosa: “Apa yang membawa kamu ke neraka?” Sahut mereka, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang shalat, Dan tidak pula kami pernah memberi makan orang-orang melarat Lagi pula kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena Dan kami dustakan adanya hari pembalasan Sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati).” [28]

Maka,  secara  tegas,  yang  membuat  orang-orang  itu  “masuk neraka”   ialah   karena  mereka  tidak  pernah  shalat  yang menanamkan dalam diri mereka kesadaran akan makna akhir  hidup ini  dan yang mendidik mereka untuk menginsyafi tanggung jawab sosial  mereka.  Maka  mereka  pun  tidak  pernah   menunaikan tanggung  jawab  sosial itu. Sebaliknya, mereka menempuh hidup egois, tidak pernah mengucapkan salam dan menghayati maknanya, juga  tidak  pernah  menengok ke kanan dan ke kiri. Mereka pun lupa, malah tidak percaya, akan datangnya  saat  mereka  harus mempertanggungjawabkan  seluruh  perbuatan  mereka  pada  hari pembalasan (akhirat).

Jika kita kemukakan dalam bahasa kontemporer, shalat  –selain menanamkan  kesadaran akan makna dan tujuan akhir hidup kita–ia juga mendidik dan mendorong kita  untuk mewujudkan  sebuah ide  atau  cita-cita  yang ideal dan luhur, yaitu terbentuknya masyarakat yang penuh kedamaian, keadilan dan  perkenan  Tuhan melalui  usaha pemerataan sumber daya kehidupan untuk seluruh warga masyarakat itu. Jika kita paham ini, maka kita pun paham mengapa  banyak  terdapat penegasan tentang pentingnya shalat, sekaligus kita juga paham mengapa kutukan Tuhan  begitu  keras kepada  orang yang  melakukan shalat hanya sebagai ritus yangkosong, yang tidak menghasilkan keinsyafan yang  mendalam  dan komitmen sosial yang meluas.

  1. CATATAN
    1. QS. al-Ma’un/107:1-~.
  2.   QS. al-Ankabut/29:45.
  3. QS. al-Ma’arij/70:19-22.
  4.  QS. al-Ma’un/107:
  5. Muhammad Mahmud al-Shawwaf, ‘Uddat al-Muslimin (Jeddah: al-Dar al-Su’udiyyah li al-Nasyr, 1388 H/1968    M). h. 55-57.
  6. . QS. al-Muddatstsir/74:38-47.

SUMBER : Islam Doktril dsn Peradaban Modern karya Prof. Dr. Nurcholish Madjid